Elemen Dasar Desain Grafis: Pengertian dan Contohnya

Table of Contents
Elemen Dasar Desain Grafis: Pengertian dan Contohnya

Elemen dasar desain grafis adalah komponen visual yang digunakan untuk membangun sebuah desain. Garis, bentuk, warna, tipografi, ruang, tekstur, ukuran, serta gambar dapat dikombinasikan untuk menyampaikan informasi secara jelas dan menarik. Memahami fungsi setiap elemen akan membantu kamu membuat desain yang lebih terstruktur, bukan sekadar terlihat ramai.

Apa Itu Elemen Dasar dalam Desain Grafis?

Elemen dasar desain grafis bisa dianggap sebagai “bahan” yang digunakan untuk membuat komunikasi visual. Saat membuat poster, konten media sosial, kemasan, logo, atau banner, kamu sebenarnya sedang menyusun berbagai elemen tersebut menjadi satu komposisi.

Garis dapat membantu membatasi area, warna menarik perhatian, tipografi menyampaikan informasi, sedangkan ruang kosong membuat isi desain lebih mudah dilihat. Ketika semuanya digunakan dengan tujuan yang jelas, desain menjadi lebih mudah dipahami.

Jumlah dan penyebutan elemen desain dapat berbeda antar-literatur. Interaction Design Foundation, misalnya, memasukkan line, shape, negative space, volume, value, color, dan texture sebagai unsur visual, sedangkan sumber Adobe menggunakan klasifikasi yang sedikit berbeda.

Karena fokus kita adalah desain grafis praktis, delapan elemen berikut digunakan sebagai kerangka yang mudah diterapkan ketika membuat layout.

8 Elemen Dasar Desain Grafis yang Perlu Dipahami

1. Garis

Garis adalah salah satu elemen visual paling sederhana, tetapi fungsinya sangat luas. Garis dapat digunakan untuk memisahkan informasi, membentuk objek, menghubungkan bagian tertentu, atau mengarahkan pandangan.

Adobe menjelaskan bahwa garis juga dapat memberikan arah. Garis horizontal cenderung memberikan kesan lebih tenang, sedangkan garis diagonal dapat memberi kesan gerak atau dinamika.

Dalam desain poster, misalnya, garis tipis bisa digunakan untuk memisahkan judul dengan informasi tanggal. Pada ilustrasi, garis dapat digunakan untuk membuat kontur suatu objek.

2. Bentuk

Bentuk atau shape merupakan area visual yang memiliki batas tertentu. Bentuk bisa berupa lingkaran, persegi, segitiga, maupun bentuk organik yang lebih bebas.

Bentuk geometris biasanya memberikan kesan teratur dan modern. Sebaliknya, bentuk organik dapat terasa lebih natural dan fleksibel.

Kamu juga bisa menggunakan bentuk sebagai background teks, tombol, elemen dekoratif, atau bagian dari identitas visual sebuah brand.

3. Warna

Warna membantu menciptakan suasana, membangun identitas, dan membedakan satu informasi dari informasi lain.

Dalam penggunaan praktis, jangan hanya memilih warna karena terlihat bagus. Pertimbangkan juga kontrasnya. Teks terang pada background terang, misalnya, dapat menurunkan keterbacaan.

Warna juga memiliki hue, value, dan saturation. Ketiganya memengaruhi bagaimana sebuah warna terlihat dan berinteraksi dengan warna lainnya. 

Untuk desain digital, kamu juga akan sering berhadapan dengan sistem warna RGB, sedangkan pekerjaan cetak umumnya menggunakan proses warna CMYK.

4. Tipografi

Tipografi bukan hanya soal memilih font keren. Tipografi berkaitan dengan bagaimana teks disusun agar informasi mudah dibaca sekaligus memiliki karakter visual.

Pemilihan typeface, ukuran huruf, ketebalan, leading, hingga jarak antarhuruf dapat memengaruhi tampilan keseluruhan desain.

Contohnya, judul poster biasanya dibuat lebih besar dan tebal dibandingkan informasi pendukung. Perbedaan tersebut membantu pembaca mengetahui mana informasi utama dan mana informasi tambahan.

Untuk pemula, sebaiknya hindari menggunakan terlalu banyak jenis font dalam satu desain. Dua keluarga font yang memiliki fungsi jelas sering kali sudah cukup untuk membangun variasi.

5. Ruang atau White Space

Ruang adalah area kosong di antara atau di sekitar elemen desain. Walaupun disebut white space, ruang tersebut tidak harus berwarna putih.

Ruang kosong memberi jarak visual sehingga desain tidak terasa penuh. Interaction Design Foundation menjelaskan bahwa negative space dapat membantu memperjelas struktur konten dan berkontribusi pada hierarchy visual.

Misalnya, memberikan jarak yang cukup antara judul dan paragraf membuat keduanya lebih mudah dibedakan daripada menempatkannya terlalu berdekatan.

Karena itu, ruang kosong bukan berarti desain belum selesai. Justru ruang merupakan bagian aktif dari komposisi.

6. Tekstur

Tekstur memberikan kesan permukaan pada sebuah desain.

Pada media fisik, tekstur dapat benar-benar dirasakan. Dalam desain digital, tekstur biasanya berupa kesan visual seperti permukaan kertas, kain, grain, kayu, atau pola tertentu.

Penggunaan tekstur dapat membuat desain terasa lebih kaya. Namun, tekstur sebaiknya tidak sampai mengganggu keterbacaan teks atau mengalahkan elemen utama.

Jika background sudah memiliki banyak tekstur, elemen lain sebaiknya dibuat lebih sederhana agar komposisi tetap seimbang.

7. Ukuran dan Skala

Ukuran membantu menunjukkan perbedaan tingkat kepentingan antar-elemen.

Judul yang jauh lebih besar daripada body text secara otomatis menarik perhatian terlebih dahulu. Gambar utama yang memenuhi sebagian besar layout juga akan lebih dominan dibandingkan ikon kecil di sudut halaman.

Skala dapat digunakan untuk menciptakan fokus, perbandingan, bahkan efek dramatis.

Namun, membuat semua elemen berukuran besar justru menghilangkan perbedaan prioritas. Jika semuanya menonjol, pembaca tidak memiliki petunjuk tentang apa yang harus dilihat terlebih dahulu.

8. Gambar dan Ilustrasi

Foto, ilustrasi, ikon, dan grafis dapat membantu menjelaskan pesan lebih cepat daripada teks panjang.

Pada poster event, foto artis dapat menjadi focal point. Pada infografik, ikon dapat mempermudah pembaca mengenali kategori informasi.

Pemilihan gambar tetap harus relevan dengan pesan. Foto yang bagus secara visual tetapi tidak berhubungan dengan topik justru dapat membuat desain membingungkan.

Perhatikan juga kualitas dan resolusi gambar, terutama ketika desain akan dicetak dalam ukuran besar.

Apa Perbedaan Elemen dan Prinsip Desain Grafis?

Elemen desain adalah komponen yang digunakan untuk membuat desain, sedangkan prinsip desain menjelaskan bagaimana komponen tersebut diatur.

Analogi sederhananya seperti memasak. Elemen adalah bahan, sedangkan prinsip adalah cara mengolah dan mengombinasikan bahan tersebut.

Warna, garis, bentuk, dan ruang merupakan contoh elemen. Sementara itu, balance, contrast, hierarchy, unity, dan emphasis lebih berkaitan dengan cara elemen-elemen tersebut disusun. Interaction Design Foundation juga membedakan elemen visual sebagai “building blocks” dengan prinsip sebagai aturan untuk mengorganisasikannya.

Setelah mengenali setiap elemen, kamu bisa mempelajari prinsip desain grafis untuk memahami bagaimana elemen-elemen tersebut disusun menjadi komposisi yang lebih efektif.

Jadi, memahami elemen saja belum cukup. Kamu juga perlu memahami hubungan antar-elemen.

Bagaimana Elemen Desain Membentuk Hierarki Visual?

Hierarki menentukan urutan perhatian mata saat melihat sebuah desain.

Bayangkan sebuah poster konser. Ketika pertama melihatnya, kamu mungkin membaca nama acara terlebih dahulu, kemudian nama artis, tanggal, lokasi, dan akhirnya informasi tambahan.

Urutan itu tidak terjadi secara kebetulan.

Desainer dapat menggunakan ukuran, warna, kontras, posisi, tipografi, dan ruang untuk menciptakan urutan visual. Elemen paling penting biasanya dibuat paling dominan, sedangkan informasi pendukung dibuat lebih tenang.

Misalnya:

  • judul menggunakan ukuran 48 pt;
  • subjudul menggunakan 24 pt;
  • informasi tambahan menggunakan 14–16 pt;
  • warna kontras digunakan untuk CTA;
  • ruang kosong diberikan di sekitar judul.

Kombinasi seperti ini membantu membentuk hierarki visual, sehingga pembaca bisa memahami prioritas informasi tanpa harus berpikir terlalu lama.

Negative space juga dapat membantu membedakan kelompok informasi dan mengarahkan perhatian ke bagian yang lebih penting. 

Contoh Penerapan Elemen Desain Grafis dalam Sebuah Layout

Supaya lebih mudah dipahami, bayangkan kamu sedang membuat poster workshop desain.

Judul “Workshop Desain untuk Pemula” ditempatkan di bagian atas dengan font sans-serif tebal. Ukurannya dibuat paling besar agar menjadi informasi pertama yang terlihat.

Di bagian tengah terdapat ilustrasi laptop dan perangkat desain. Ilustrasi tersebut berfungsi sebagai elemen visual utama sekaligus memberikan konteks mengenai tema acara.

Background menggunakan warna netral, lalu satu warna cerah digunakan sebagai aksen pada tombol pendaftaran.

Di antara judul, ilustrasi, dan informasi acara diberikan ruang kosong yang cukup agar layout tidak terasa sesak.

Informasi tanggal dan lokasi menggunakan ukuran lebih kecil dibanding judul, tetapi masih memiliki kontras yang cukup agar mudah dibaca.

Setelah menentukan elemen apa saja yang digunakan, kamu juga perlu memilih jenis layout dalam desain grafis yang sesuai agar hubungan antara teks, gambar, dan ruang terasa lebih terstruktur.

Dari satu contoh sederhana tersebut, terlihat bahwa elemen desain tidak bekerja sendirian. Garis, warna, tipografi, gambar, ruang, dan skala saling mendukung untuk menyampaikan informasi.

Kesalahan Umum Saat Menggunakan Elemen Desain

Kesalahan pertama adalah terlalu banyak warna. Banyak warna memang bisa membuat desain terlihat ramai, tetapi belum tentu membuatnya lebih menarik. Gunakan palet terbatas dan tentukan fungsi setiap warna.

Kesalahan kedua adalah menggunakan terlalu banyak font. Terlalu banyak gaya tipografi dapat membuat identitas desain terasa tidak konsisten.

Kesalahan berikutnya adalah mengisi seluruh ruang kosong. Pemula sering merasa setiap area harus diberi teks, gambar, garis, atau ornamen. Padahal ruang kosong membantu memisahkan dan memperjelas informasi.

Kesalahan lain yang umum adalah semua elemen dibuat dominan. Judul besar, gambar besar, warna sangat terang, dan banyak ornamen yang sama-sama menarik perhatian akan saling bersaing.

Selain itu, hindari penggunaan gambar beresolusi rendah, kontras teks yang terlalu lemah, serta dekorasi yang tidak memiliki fungsi.

Setiap elemen sebaiknya memiliki alasan untuk berada di dalam desain.

Tips Menggabungkan Elemen Desain agar Terlihat Menarik

Mulailah dengan menentukan informasi paling penting. Elemen yang membawa informasi tersebut harus mendapatkan perhatian paling besar.

Setelah itu, buat hirarki ukuran. Tentukan mana judul, subjudul, isi, dan informasi tambahan.

Gunakan palet warna yang konsisten. Kamu tidak harus menggunakan banyak warna untuk membuat desain menarik. Beberapa warna dengan fungsi yang jelas sering kali lebih efektif.

Berikan ruang kosong yang cukup di sekitar elemen utama. Jangan takut melihat area kosong karena ruang merupakan bagian dari desain.

Gunakan satu elemen dominan sebagai focal point. Bisa berupa gambar, headline, angka besar, atau ilustrasi.

Kemudian cek desain dari jarak tertentu atau perkecil tampilannya. Jika kamu masih dapat mengenali informasi utama, biasanya hierarchy sudah mulai bekerja.

Terakhir, tanyakan satu hal sederhana: apakah setiap elemen membantu menyampaikan pesan?

Jika sebuah garis, ikon, tekstur, atau ornamen tidak memiliki fungsi dan justru membuat desain semakin ramai, kemungkinan elemen tersebut bisa dihilangkan.

Memahami elemen dasar desain grafis bukan berarti kamu harus memakai semuanya dalam setiap pekerjaan. Justru keterampilan desain berkembang ketika kamu mampu memilih elemen yang tepat, mengatur prioritasnya, lalu menyusunnya menjadi komunikasi visual yang mudah dipahami.

Fikalmyid
Fikalmyid Seorang Desain Grafis dan Blogging Junior

Post a Comment