10 Jenis Desain Grafis yang Perlu Kamu Ketahui
Desain grafis memiliki banyak bidang karena setiap media membutuhkan cara komunikasi visual yang berbeda. Beberapa jenis yang paling umum antara lain desain branding, iklan, media sosial, UI, editorial, kemasan, ilustrasi, motion graphic, environmental graphic, dan infografis. Masing-masing membutuhkan kombinasi skill, tools, dan cara berpikir yang berbeda.
Apa Itu Jenis Desain Grafis?
Jenis desain grafis adalah pengelompokan bidang desain berdasarkan tujuan komunikasi, media, dan hasil yang dibuat. Desainer yang mengerjakan identitas merek, misalnya, menghadapi kebutuhan berbeda dengan desainer yang membuat antarmuka aplikasi atau animasi.
Karena cakupannya luas, tidak ada satu daftar resmi yang menetapkan desain grafis harus terbagi menjadi jumlah tertentu. Adobe, misalnya, mengelompokkan bidang seperti visual identity, advertising, editorial, packaging, UI/UX, illustration, motion graphics, web, dan environmental design sebagai disiplin yang umum ditemukan.
Kalau kamu masih ingin memahami bidangnya dari dasar, pembahasan mengenai apa itu desain grafis bisa membantu memahami fungsi desain sebagai media komunikasi visual sebelum masuk ke spesialisasi tertentu.
10 Jenis Desain Grafis dan Contohnya
Berikut 10 jenis desain grafis yang umum ditemui dalam proyek kreatif. Pembagian ini bersifat praktis karena dalam pekerjaan nyata beberapa bidang dapat saling tumpang tindih.
1. Desain Identitas Visual dan Branding
Visual identity berhubungan dengan bagaimana sebuah brand dikenali secara visual. Pekerjaannya dapat mencakup logo, pilihan warna, tipografi, elemen grafis, hingga panduan penggunaan identitas.
Contohnya adalah identitas visual kedai kopi yang mempunyai logo, warna utama, bentuk ikon, gaya foto, serta desain kemasan yang konsisten.
Adobe menjelaskan bahwa bidang branding dan identity berfokus pada penciptaan identitas visual agar sebuah brand tetap mudah dikenali dan konsisten di berbagai touchpoint.
Contoh output: logo, brand guideline, stationery, pattern, dan aset brand.
Tools yang umum: Adobe Illustrator dan Photoshop.
2. Desain Marketing dan Periklanan
Jenis ini bertujuan menyampaikan pesan pemasaran secara visual. Fokusnya bukan hanya membuat tampilan menarik, tetapi juga membuat informasi utama cepat terbaca.
Contohnya antara lain poster promo, banner digital, materi campaign, brosur, display ads, dan visual untuk marketplace.
Desainer perlu memahami hierarchy sehingga headline, penawaran, visual produk, dan call to action mempunyai urutan perhatian yang jelas. Adobe menjelaskan bahwa hierarchy dapat dibentuk melalui ukuran, warna, font, kontras, dan penempatan elemen.
Contoh output: poster, banner, brosur, digital ads.
Tools yang umum: Illustrator, Photoshop, dan aplikasi layout.
3. Desain Media Sosial
Social media design sebenarnya dekat dengan marketing design, tetapi kebutuhan produksinya cukup khas sehingga sering menjadi spesialisasi tersendiri.
Desainer biasanya membuat feed Instagram, carousel, Story, thumbnail, hingga visual campaign yang harus tetap konsisten dengan identitas brand.
Tantangannya adalah menyampaikan pesan dalam ruang terbatas sekaligus mempertahankan karakter visual. Satu desain juga sering perlu diadaptasi ke beberapa ukuran platform.
Contoh output: feed, carousel, Story, thumbnail, dan konten promosi.
Tools yang umum: Photoshop, Illustrator, dan aplikasi desain berbasis template.
4. Desain UI atau User Interface
UI design berfokus pada tampilan dan elemen interaksi pada produk digital seperti website, aplikasi, atau dashboard.
Elemen yang dirancang dapat berupa tombol, ikon, menu, kartu, form, tipografi, warna, spacing, serta sistem visual antarlayar.
UI perlu dibedakan dari UX. UI lebih dekat dengan tampilan dan interaksi antarmuka, sedangkan UX memiliki cakupan lebih luas terhadap pengalaman pengguna, alur, riset, prototyping, dan usability. Adobe juga membuat pembedaan tersebut dalam panduan desain grafisnya.
Interface yang baik tidak hanya cantik. Hierarki, keterbacaan, konsistensi, dan discoverability juga berperan agar pengguna memahami apa yang bisa dilakukan.
Contoh output: app screen, dashboard, landing page, design system.
Tools yang umum: Figma dan software prototyping/interface design.
5. Desain Publikasi dan Editorial
Editorial design berhubungan dengan penyusunan teks dan visual dalam publikasi agar informasi nyaman dibaca.
Contohnya bisa berupa buku, majalah, katalog, company profile, e-book, laporan tahunan, dan publikasi digital.
Di sini kemampuan layout dan tipografi sangat penting. Desainer harus mengatur judul, subjudul, body text, foto, caption, margin, grid, dan whitespace agar halaman tetap terstruktur.
Contoh output: majalah, buku, katalog, laporan, e-book.
Tools yang umum: Adobe InDesign, Illustrator, dan Photoshop.
6. Desain Kemasan atau Packaging
Packaging design menggabungkan identitas visual, informasi produk, dan kebutuhan kemasan fisik.
Desainer bisa mengerjakan layout label, ilustrasi, pemilihan tipografi, komposisi bagian depan-belakang kemasan, hingga penyesuaian desain terhadap bentuk kemasan.
Adobe memasukkan packaging sebagai salah satu bidang desain grafis komersial dan menjelaskan bahwa desainer mengatur elemen seperti identitas, ilustrasi, serta informasi produk pada kemasan.
Pada proyek produksi nyata, desainer juga perlu memahami kebutuhan teknis seperti bleed, area aman, dieline, mode warna, serta kesiapan file untuk percetakan.
Contoh output: box, pouch, label, botol, sleeve.
Tools yang umum: Illustrator dan Photoshop.
7. Desain Ilustrasi
Ilustrasi menggunakan gambar untuk menyampaikan konsep, cerita, karakter, atau suasana tertentu.
Bidang ini dapat digunakan pada buku, editorial, kemasan, poster, merchandise, website, hingga campaign sebuah brand.
Berbeda dengan layout yang banyak mengorganisasi elemen yang sudah tersedia, ilustrator sering membuat elemen visual utama dari awal.
Adobe mencatat penggunaan ilustrasi dapat ditemukan pada publikasi, branding, iklan, packaging, website, aplikasi, media sosial, dan materi pendidikan.
Contoh output: character illustration, editorial illustration, mascot, artwork.
Tools yang umum: Illustrator, Photoshop, dan software digital drawing.
8. Motion Graphic dan Animasi
Motion graphic membawa elemen desain statis ke dalam bentuk bergerak.
Teks, logo, shape, ilustrasi, ikon, dan gambar dapat dianimasikan untuk menjelaskan informasi atau memperkuat storytelling.
Contohnya adalah animated logo, intro video, kinetic typography, explainer video, dan visual untuk konten pendek.
Menurut Adobe, motion graphics menggabungkan prinsip desain grafis dengan animasi dan dapat melibatkan typography, illustration, colour, composition, movement, timing, serta sound.
Contoh output: animated logo, title sequence, explainer, social video.
Tools yang umum: Adobe After Effects, Illustrator, dan software video editing.
9. Environmental Graphic Design
Environmental graphic design menghubungkan komunikasi visual dengan ruang fisik.
Penerapannya dapat terlihat pada signage gedung, sistem petunjuk arah, exhibition graphic, branding ruang toko, mural, atau informasi visual di ruang publik.
Tujuannya bukan hanya memperindah ruangan. Dalam banyak kasus, desain membantu orang memahami lokasi dan bergerak dari satu area ke area lain.
Adobe memasukkan wayfinding, museum, exhibition graphics, retail branding, venue signage, dan public installations sebagai contoh aplikasinya.
Contoh output: signage, wayfinding, exhibition panel, wall graphic.
Tools yang umum: software desain vektor dan layout.
10. Desain Infografis
Infografis bertujuan mengubah data atau informasi yang kompleks menjadi visual yang lebih mudah dipahami.
Elemen yang digunakan bisa berupa diagram, ikon, ilustrasi, angka, tipografi, timeline, dan grafik sederhana.
Desainer perlu menentukan informasi mana yang harus terlihat pertama, mana yang menjadi pendukung, dan bagaimana pembaca mengikuti alur informasi.
Karena itu, kemampuan hierarchy dan composition sangat berpengaruh. Adobe menjelaskan bahwa hierarchy membantu memberi bobot visual yang berbeda agar pembaca mengenali informasi dari yang paling penting ke yang lebih rinci.
Contoh output: infographic poster, timeline, data visualization sederhana, visual report.
Tools yang umum: Illustrator, Figma, atau aplikasi visualisasi sesuai kebutuhan.
Perbedaan Jenis Desain Grafis dan Gaya Desain Grafis
Jenis desain grafis dan gaya desain grafis bukan hal yang sama.
Jenis desain grafis menjelaskan bidang atau fungsi pekerjaannya. Branding, packaging, editorial, UI, dan motion graphic adalah contoh bidang.
Sementara itu, gaya desain menjelaskan karakter visual yang digunakan. Minimalis, retro, brutalism, futuristik, flat design, atau maximalist adalah contoh pendekatan estetika.
Satu bidang dapat memakai banyak gaya. Packaging kopi, misalnya, bisa menggunakan gaya minimalis. Packaging makanan ringan bisa menggunakan visual retro atau ilustratif.
Kalau kamu ingin memahami sisi estetikanya, pembahasan tentang gaya desain grafis populer dapat menjadi referensi lanjutan setelah memahami bidangnya.
| Jenis Desain | Menjelaskan | Contoh |
|---|---|---|
| Branding | Fungsi/bidang desain | Logo dan brand guideline |
| Packaging | Fungsi/bidang desain | Box dan label produk |
| UI | Fungsi/bidang desain | Tampilan aplikasi |
| Minimalis | Gaya visual | Sedikit elemen dan whitespace |
| Retro | Gaya visual | Inspirasi visual periode masa lalu |
Perbedaan ini penting agar kamu tidak menganggap sebuah style sebagai profesi atau spesialisasi.
Bagaimana Memilih Jenis Desain Grafis yang Cocok untuk Dipelajari?
Tidak perlu mempelajari semuanya sekaligus. Pilih bidang berdasarkan jenis karya yang paling membuat kamu tertarik untuk terus berlatih.
Jika suka mengembangkan logo dan identitas brand, mulai dari branding. Jika lebih tertarik pada website atau aplikasi, UI bisa menjadi pilihan.
Kalau kamu senang menggambar, ilustrasi lebih relevan. Jika suka video, gerak, dan storytelling, motion graphic patut dicoba.
Kamu bisa menggunakan panduan sederhana berikut:
Suka logo dan bisnis: branding.
Suka promosi: marketing dan social media design.
Suka aplikasi dan website: UI design.
Suka buku dan layout: editorial.
Suka produk fisik: packaging.
Suka menggambar: illustration.
Suka video: motion graphic.
Suka ruang dan signage: environmental graphic.
Suka mengolah informasi: infographic design.
Setelah memilih satu atau dua bidang, buat beberapa proyek latihan dengan brief sederhana. Dari proses tersebut kamu akan lebih mudah menilai apakah bidang itu cocok untuk dipelajari lebih dalam.
Tidak masalah jika kemudian berpindah spesialisasi. Banyak prinsip desain yang bisa digunakan lintas bidang.
Skill Dasar yang Perlu Dikuasai Sebelum Memilih Spesialisasi
Walaupun bidangnya berbeda, beberapa fondasi desain tetap digunakan hampir di semua pekerjaan visual.
Karena itu, sebelum terlalu fokus pada software tertentu, pahami lebih dulu dasar-dasar desain grafis agar keputusan visual tidak hanya bergantung pada template atau efek.
Skill utama yang sebaiknya dipelajari antara lain:
1. Tipografi
Belajar memilih typeface, mengatur ukuran, weight, line spacing, dan hierarchy teks. Sistem tipografi Adobe juga menggunakan ukuran, weight, dan warna untuk membangun hierarki informasi.
2. Warna
Pahami hubungan warna, contrast, harmony, dan fungsi warna dalam mengarahkan perhatian. Warna dapat membantu membangun hierarchy, identitas, dan keterbacaan.
3. Layout dan komposisi
Belajar mengatur posisi teks, gambar, whitespace, alignment, dan grid agar desain tidak terasa acak.
4. Hierarki visual
Pembaca harus bisa mengetahui elemen terpenting terlebih dahulu. Ukuran, warna, weight, kontras, dan posisi dapat digunakan untuk membangun urutan perhatian.
5. Penguasaan tools
Software hanyalah alat. Pilih berdasarkan kebutuhan proyek: aplikasi vektor untuk logo dan ilustrasi, aplikasi layout untuk publikasi, software motion untuk animasi, atau interface design tool untuk UI.
6. Memahami kebutuhan output
Desainer perlu mengetahui di mana desain akan digunakan. Desain untuk layar dan desain yang dicetak mempunyai kebutuhan file yang berbeda.
Biasakan mengecek ukuran kanvas, resolusi, mode warna, format file, margin atau bleed jika dibutuhkan, serta spesifikasi platform sebelum mulai mendesain.
Workflow sederhananya dapat berupa:
brief → riset → konsep → sketsa/layout → produksi → review → revisi → export
Dengan workflow seperti ini, perhatian kamu tidak habis hanya pada software. Fokus tetap berada pada masalah komunikasi yang perlu diselesaikan.
Kesimpulan
Jenis desain grafis bisa dibedakan berdasarkan tujuan dan media yang dikerjakan, mulai dari branding, marketing, social media, UI, editorial, packaging, ilustrasi, motion graphic, environmental graphic, hingga infografis.
Tidak perlu menjadi ahli di semua bidang. Untuk pemula, pilihan yang lebih masuk akal adalah menguasai prinsip desain terlebih dahulu, mencoba beberapa jenis proyek, lalu memperdalam satu atau dua spesialisasi yang paling sesuai dengan minat.
Kalau kamu sudah tahu bidang mana yang paling menarik, langkah berikutnya adalah membuat proyek latihan yang menyerupai kebutuhan nyata. Dari sana, kamu bukan hanya belajar menggunakan tools, tetapi juga mulai membangun cara berpikir dan portofolio sebagai desainer.

Post a Comment